Inovasi Pemangkasan Padi untuk Menjamin Ketersediaan Pakan Ternak dan Mendukung Swasembada Pangan

oleh -28 Dilihat
oleh

Oleh Dr. Ir. Jamilah, MP ( Kaprodi Magister Agroteknologi Universitas Tamansiswa Padang.

Ketersediaan hijauan pakan merupakan salah satu tantangan utama dalam pengembangan usaha peternakan sapi di Indonesia. Seiring dengan meningkatnya kebutuhan lahan untuk permukiman, industri, dan berbagai sektor pembangunan lainnya, areal yang dapat dimanfaatkan sebagai sumber hijauan pakan semakin terbatas. Saat ini, sebagian besar peternakan sapi masih berkembang di daerah pedalaman, sekitar kawasan hutan, atau lahan semak yang belum dibudidayakan. Di sisi lain, lahan sawah sebagai sumber utama produksi pangan juga terus mengalami alih fungsi, sehingga menimbulkan tantangan ganda dalam upaya mewujudkan swasembada beras sekaligus swasembada daging.

Berangkat dari kondisi tersebut, diperlukan inovasi yang mampu mengintegrasikan produksi tanaman pangan dan penyediaan pakan ternak dalam satu sistem budidaya yang berkelanjutan. Salah satu teknologi yang tengah dikembangkan adalah pemangkasan tanaman padi pada fase menjelang pembentukan primordia bunga. Melalui teknik ini, tanaman menghasilkan hijauan pakan dengan kualitas nutrisi yang tinggi, bahkan lebih baik dibandingkan sebagian besar jenis rumput yang umum digunakan sebagai pakan ternak.

Meskipun penerapan teknologi ini dapat menurunkan hasil gabah sekitar 20 persen, nilai ekonominya tetap menjanjikan. Penurunan hasil tersebut dinilai lebih kecil dibandingkan biaya yang harus dikeluarkan petani apabila menyediakan lahan khusus untuk menanam rumput pakan, termasuk biaya pengolahan tanah, pemupukan, dan pemeliharaan. Dengan kata lain, petani dapat memperoleh dua manfaat sekaligus dari lahan yang sama, yaitu menghasilkan beras dan menyediakan hijauan pakan berkualitas bagi ternak.

Selain menyediakan pakan, pemangkasan juga memberikan berbagai keuntungan agronomis. Tanaman padi yang tumbuh kembali setelah dipangkas memiliki batang yang lebih kokoh sehingga lebih tahan terhadap rebah akibat angin kencang maupun hujan lebat. Pertumbuhan tanaman yang lebih kuat juga berpotensi mengurangi gangguan beberapa organisme pengganggu tanaman, seperti tikus, karena kondisi pertanaman menjadi lebih seragam dan vigor tanaman meningkat. Tanaman hasil pemangkasan umumnya menunjukkan pertumbuhan yang lebih tegap, kuat, dan memiliki daya tahan yang lebih baik terhadap tekanan lingkungan.

Agar teknologi ini dapat diterapkan secara optimal, pelaksanaan pemangkasan disarankan dilakukan secara bergiliran pada hamparan sawah. Dengan pengaturan waktu tanam dan waktu pemangkasan yang berbeda antarpetak, ketersediaan hijauan pakan dapat berlangsung secara terus-menerus sepanjang musim tanam tanpa mengganggu kontinuitas produksi padi. Pendekatan ini diharapkan mampu menciptakan sistem integrasi tanaman padi dan peternakan yang lebih efisien, berkelanjutan, serta mendukung ketahanan pangan nasional.

Penelitian mengenai teknologi pemangkasan padi ini dilaksanakan oleh Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang melalui Proyek Penelitian Strategis Nasional Tahun 2025–2026. Kegiatan penelitian mencakup pemangkasan pada tanaman padi utama maupun tanaman padi hasil ratoon untuk mengevaluasi potensi produksi hijauan pakan, produktivitas gabah, serta manfaat agronomis lainnya. Penelitian tersebut didanai oleh LLDIKTI Wilayah X melalui Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi berdasarkan Kontrak Nomor 003/DST/LL10/AL.04.03/PL-MULTITAHUN LANJUTAN/2026.

Melalui hasil penelitian ini, Fakultas Pertanian Universitas Tamansiswa Padang berharap dapat menghadirkan teknologi sederhana yang mudah diterapkan petani, namun mampu memberikan manfaat besar dalam mendukung sistem pertanian terpadu. Inovasi ini diharapkan menjadi salah satu solusi strategis untuk menjawab tantangan keterbatasan hijauan pakan, meningkatkan efisiensi usaha tani, memperkuat sektor peternakan, serta mendukung pencapaian swasembada beras dan daging secara berkelanjutan. (**)