Ketika Nama Berbohong pada Fakta: Ironi Istilah Astronomi dan Krisis Literasi Sains

oleh -113 Dilihat
oleh

Padang |taranews.id- Mengapa kita harus peduli pada kesalahan penamaan ini? Karena dalam sains, terminologi adalah cerminan dari cara kita berpikir. Ketika kita terbiasa menerima istilah yang salah secara fisika hanya karena “sudah lazim digunakan”, kita sedang menurunkan standar ketajaman nalar kita sendiri. Sains bukanlah soal puitisasi atau sekadar mencari istilah yang terdengar indah di telinga. Sains adalah tentang presisi. Ketika kita menyebut New Moon padahal bulan tidak nampak, kita sedang tidak jujur pada apa yang kita lihat.

Ilmuwan memiliki tanggung jawab epistemologis—tanggung jawab terhadap kebenaran pengetahuan. Kita tidak boleh membiarkan masyarakat terus-menerus disuguhi pemahaman yang keliru demi alasan kenyamanan bahasa. Literasi sains bukan sekadar tentang menghafal rumus, melainkan tentang bagaimana kita memiliki kerangka berpikir yang kritis terhadap setiap label yang disematkan pada objek-objek alam semesta.

Menyembuhkan Krisis Literasi

Kegagalan kita dalam mendefinisikan istilah secara presisi sering kali menjadi pintu masuk bagi pseudosains atau takhayul. Ketika masyarakat tidak paham apa itu fase bulan, mereka mudah percaya pada mitos-mitos tentang pengaruh bulan pada perilaku manusia atau keberuntungan. Sebaliknya, jika kita mengajarkan masyarakat bahwa New Moon hanyalah posisi mekanis bulan dalam tata surya, kita sedang membangun fondasi berpikir rasional.

Sebagai pengajar, saya sering menekankan kepada mahasiswa bahwa nama adalah konvensi, tetapi data adalah kebenaran. Jangan pernah membiarkan label menutup mata kita dari realitas. Jika sebuah istilah menyesatkan pemahaman publik tentang hukum alam, maka tugas ilmuwan adalah untuk mengoreksinya, bukan membiarkannya. Kita harus menjadi agen literasi yang berani membongkar “kebohongan” istilah-istilah yang tidak relevan ini.

Kembali pada Nalar yang Sehat

Mari kita jadikan fenomena kesalahan penamaan ini sebagai pengingat untuk senantiasa kritis. Jangan mudah percaya pada apa yang terdengar manis di permukaan tanpa memverifikasi apa yang terjadi di balik hukum fisika. Alam semesta bekerja dengan hukum yang pasti (Sunnatullāh), yang tidak peduli pada strata sosial manusia maupun pada kesepakatan istilah yang salah kaprah.

Pada akhirnya, kejujuran intelektual dimulai dari bagaimana kita menamai sesuatu secara benar. Jika bulan memang tidak nampak, katakanlah ia sedang hilang, bukan “Bulan Baru”. Karena pada akhirnya, ketaatan pada data jauh lebih berharga daripada keindahan sebuah nama. Saatnya kita menanggalkan romantisme istilah yang menyesatkan, dan menggantinya dengan kejujuran sains yang murni dan presisi. Sebab, di langit yang luas itu, kebenaran tidak pernah meminta izin kepada nama-nama indah kita; ia berdiri tegak dengan hukumnya sendiri yang tak terbantahkan.

Oleh : Prof. Ir. Mas Mera. Ph.D

(Dosen FT Unand)